“NEW GENERATION”, NEW VISION COMMUNITY

Rasanya sebuah komunitas atau organisasi dinilai  masih sangat   penting  sampai saat ini, terutama generasi milenial. Melalui komunitas, anak muda dapat saling mendukung, membantu hingga menghasilkan  karya. Tak heran, jumlah komunitas di Indonesia semakin meningkat. Salah satunya Komunitas “New Generation” bagi  orang yang mengalami Low Vision (LV).

Komunitas“New Generation” pada awalnya terbentuk atas dasar kepedulian Yayasan LAYAK terhadap banyaknya klien LV dewasa yang memiliki tantangan cukup besar di masyarakat, terutama dalam mengakses pendidikan dan pekerjaan. Oleh karena itu, pada 20 Juli 2018, Yayasan LAYAK mengadakan pertemuan pertama yang dihadiri 8 klien LV berusia 19 –  40 tahun yang memiliki latar belakang berbeda.

Pada pertemuan ini,  dipetakan isu, tantangan dan kesulitan seperti minimnya informasi pekerjaan yang diperoleh  orang LV,  factor lingkungan yang belum bisa menerima keberadaan mereka  untuk bekerja dan kurangnya informasi membuat mereka tidak mengetahui bidang  pekerjaan yang tepat untuk ditekuni. Hal ini membuat  tidak sedikit dari mereka menghadapi quarter life crisis, seperti  kehilangan motivasi hidup, merasa  gagal, dan kehilangan kepercayaan diri.

Hasil akhir diskusi menghasilkan struktur keanggotaan beserta nama  komunitas “New Generation” dan agenda pertemuan rutin setiap 3 bulan hingga rancangan berbagai kegiatan pemberdayaan, seperti sosialisasi LV, jejaring dan advokasi. Setiap anggota akan berinisiatif mengajak anggota baru yang mereka temui sewaktu melakukan control ke RS atau ketika mereka terlibat dalam kegiatan disabilitas lainnya.

Dalam waktu 1 tahun, komunitas“New Generation” telah memiliki 34 anggota yang aktif hingga membentuk jejaring melalui media social instagram @KOMLOVING dan whatsappgroup untuk wilayah Jabodetabek. Adapun kegiatan yang dihasilkan melalui komunitas ini sebagai berikut:

  1. Terlibat pada pentas seni pada hari Disabilitas Internasional 2019 yang diselenggarakan Kemensos.
  2. Menjadi educator dalam acara multi-sensory pada kampanye pencegahan gangguan penglihatan “Eye Stand By U”.
  3. Kolaborasi dengan Yayasan Rawinala dalam melakukan kelas kewirausahawan, seperti membuat telor asin dan handscraft.
  4. Agenda visit atau kunjungan keanggota komunitas yang belum terlibat aktif.
  5. Memfasilitasi anggota komunitas mengakses Kartu Layanan Trans jakarta gratis.
  6. Terlibat sebagai fotografi dan design grafis dalam membuat logo, banner, flyer, alat bantu penglihatan dan poster rehabilitasi Low Vision YAYASAN LAYAK.
  7. Terlibat sebagai narasumber bagi mahasiswa kedokteran semester 6 Universitas Indonesia dalam mata kuliah menumbuhkan empati kepada para difabel.
  8. Terlibat sebagai volunteer di Yayasan LAYAK untuk kegiatan pendampingan klien di RS, follow up telpon dan inventaris alat bantu dan alat test.

Ini membuktikan bahwa  komunitas dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan. Terbukti dari bagaimana mereka saling mendukung, menguatkan, memberikan akses pekerjaan dan terus berkarya.

Even without sight, there is still vision

-Anonim-

Spread the love